Perselingkuhan Penyebab Keretakan Hubungan Pernikahan dan Trauma pada Korban
Tahlia Dwi Budianti
Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana Yogyakarta
Email : tahliadwibudianti04@gmail.com
PENDAHULUAN
Perselingkuhan dalam hubungan pernikahan menjadi topik yang kerap menimbulkan perdebatan, baik secara sosial maupun personal. Perselingkuhan tidak hanya menyakitkan bagi pihak yang dikhianati, tapi juga bisa merusak fondasi hubungan yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Dalam hubungan, kepercayaan adalah hal terpenting yang mendukung keberlangsungan dan kestabilitas ikatan emosional. Jika kepercayaan ini dirusak melalui tindakan perselingkuhan, hal ini dapat menyebabkan konflik, perceraian, atau putusnya hubungan. Meski perselingkuhan dianggap sebagai pelanggaran terhadap komitmen dan kesetiaan, namun, fenomena ini masih banyak terjadi dalam pernikahan, karena berbagai alasan. Cukup banyak pasangan yang merasa bahwa masalah ini hanya berkaitan dengan ketidakmampuan menjaga komitmen, namun ada faktor yang jauh lebih kompleks yang terlibat.
Perselingkuhan diakui sebagai masalah yang tersebar luas di Indonesia. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa persentase signifikan dari pria dan wanita terlibat dalam perselingkuhan.Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah perselingkuhan tertinggi kedua di Asia (Simanjutak, 2023). Sementara itu, meningkatnya perselingkuhan di Indonesia tampaknya berbanding lurus dengan menurunnnya minat tuntuk menikah. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) angka pernikahan pada tahun 2023 mengalami penurunan 7,51% dibandingkan dengan tahun 2022, sehingga menjadikan tahun 2023 sebagai tahn terendah dalam 10 tahun terakhir (Annur, 2024). Beberapa faktor yang memengaruhi keputusan untuk menunda atau tidak menikah mencakup pengalaman relasi romantis yang gagal atau pengalaman traumatis dalam hubungan masalalu serta ketakutan untuk disakiti dalam suatu hubungan (Situmorang, 2007; Apostolou & Esposito, 2020).
Mengapa perselingkuhan bisa terjadi? Apakah ini hanya akibat dari ketidakpuasan atau konflik dalam hubungan, atau adakah faktor psikologis, sosial, dan budaya yang lebih dalam yang memengaruhi perilaku ? Perselingkuhan lebih dari sekadar pengkhianatan, perselingkuhan sering kali mencerminkan perasaan tidak puas, baik secara emosional, seksual, atau bahkan sosial. Hal ini sering kali disebabkan oleh kurangnya komunikasi, perubahan dinamika hubungan, atau bahkan masalah pribadi orang tersebut yang belum terselesaikan.
Selain itu, korban perselingkuhan seringkali mengalami dampak psikologis yang serius, seperti trauma psikologis, depresi, dan gangguan kecemasan. Dampak ini dapat bertahan lama dan memengaruhi kemampuan korban untuk membentuk hubungan yang sehat di masa depan. Oleh karena itu, penting untuk memahami faktor-faktor penyebab perselingkuhan, bagaimana pengaruhnya terhadap dinamika hubungan, dan bagaimana pengaruhnya terhadap kesehatan mental korban.
Tujuan artikel ini adalah untuk membahas jenis perselingkuhan, penyebab utama perselingkuhan, dampak perselingkuhan yang dapat timbul pada korban, dan strategi pemulihan yang dapat dilakukan korban. Pemahaman yang lebih mendalam mengenai hal ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi individu dan pasangan, dalam menangani dan mencegah perselingkuhan.
PEMBAHASAN
Menurut Hertlein , Wetchler, dan Piercy (2005), selingkuh adalah segala tindakan yang melanggar kesepakatan yang dimiliki antar pasangan. Selain itu, perselingkuhan juga menyangkut hubungan seksual dengan orang lain, perilaku cybersex, menonton pornografi, keintiman secara fisik seperti berciuman atau bergandengan tangan, serta keintiman secara emosional dengan orang lain selain pasangan.
Perselingkuhan memiliki konotasi negatif dibanyak budaya dan masyarakat, namun pemahaman tentang penyebab dan dampaknya sangat bervariasi, tergantung pada konteks sosial, psikologis, dan budaya dimana hubungan tersebut terjadi. Kehidupan rumah tangga yang tidak bahagia, kurangnya aktivitas seksual dengan pasangan, kurangnya motivasi agama dan moral, serta kehidupan pribadi yang tidak teratur atau bermasalah, semuanya dijadikan alasan sebagian orang untuk berselingkuh. Hanya 10% orang yang menganggap seks dengan orang lain selain pasangannya merupakan hal yang salah (80% responden yang sudah menikah). Jumlah orang yang menganggap hal tersebut tidak salah telah meningkat hingga 70% (1% responden menikah) (Greeley, 1994).
Jenis Perselingkuhan
Seiring berkembangnya teknologi, terutama media sosial dan aplikasi kencan, peluang terjadinya perselingkuhan pun semakin besar, yang selanjutnya memperumit pemahaman tentang pengkhianatan dalam hubungan. Oleh karena itu, penting untuk memahami perselingkuhan bukan hanya sebagai tindakan fisik, tetapi juga sebagai masalah yang berakar pada ketidakmampuan atau keenganan pasangan untuk menjaga komunikasi, kepercayaan, dan komitmen dalam hubungan.
Perselingkuhan yang dialakukan secara online disebut dengan istilah cyberaffair yaitu hubungan romantis dan/atau seksual yang dilakukan secara online dan dilakukan melalui beberapa bentuk kontak virtual (Cravens et al., 2013; Cravens & Whiting, 2016; McDaniel et al., 2017). Sebuah studi yang dilakukan oleh McDaniel et al. (2017) memperkirakan bahwa 5-12% dari pelaku cyberaffair memiliki tingkat kepuasan hubungan yang rendah, ambiguitas hubungan, dan kecemasan akan keterikatan dengan pasangan utama.
Fenomena cyberaffair erat kaitannya dengan Indonesia yang merupakan salah satu negara dengan jumlah pengguna media sosial terbesar yaitu 150 juta pengguna per Januari 2019 dan terus bertambah pada tahun 2020 (Social, 2019). Namun penelitian mengenai hubungan penggunaan internet dan perselingkuhan di Indonesia masih terbatas dan diperlukan penelitian lebih lanjut.
Brown mengklasifikasikan perselingkuhan antara lain:
- Strategi menghindari konflik, dimana pasangan tidak mampu mendiskusikan perbedaan mereka dan menggunakan perselingkuhan untuk membuat memperjelas adanya masalah yang serius.
- Menghindari keintiman, “rasanya lebih aman jika merahasiakannya”. Selingkuh lebih sering terjadi dalam pernikahan, yang harus dihindari karena mereka merasa terancam atau tidak nyaman dengan keintiman yang lebih dalam hubungan pernikahan mereka.
- Perselingkuhan sarang kosong, ketika suatu hubungan terasa hampa. Salah satu atau kedua pasangan mungkin merasa bahwa hubungan mereka tidak lagi memenuhi kebutuhan emosional atau seksual mereka (misalnya, setelah anak-anak tumbuh besar dan meninggalkan rumah).
- Perselingkuhan diluar rumah, ketika perselingkuhan mendorong salah satu atau kedua pasangan untuk meninggalkan hubungan.
- Kecanduan seksual, perselingkuhan bukan semata-mata akibat masalah emosional dalam suatu hubungan, melainkan akibat dorongan biologis atau psikologis yang sulit dikendalikan. Kecanduan seksual seringkali melibatkan perilaku dorongan yang merusak hubungan jangka panjang. (Schneider, Irons, Corley, 1999).
Implikasi dari teori ini adalah bahwa perselingkuhan tidak seta merta dipandang sebagai pengkhianatan atau kesalahan moral, tetapi juga dapat dipahami sebagai respons terhadap ketidakpuasan atau permasalah yang belum terselesaikan dalam suatu hubungan. Mengenali motivasi-motivasi ini dapat memberikan wawasan yang lebih dalam tentang bagaimana memperbaiki dan menjaga hubungan untuk menghindari perselingkuhan dan bagaimana menyelesaikan masalah-masalah yang mendasari perselingkuhan dalam konteks pernikahan.
Penyebab Perselingkuhan
- Kematangan Emosi
Kedewasaan pasangan perempuan dan laki laki, mempunyai pengaruh terhadap kualitas hubungan. Orang yang matang secara emosional selalu berusaha menyelesaikan masalah konflik dalam hubungan dengan cara yang positif. Ia akan bersikap terbuka dan jujur kepada pasangannya serta akan mampu lebih mengontrol emosinya terkait segala keinginannya, termasuk menghindari keinginan godaan yang hadir selama menjalin hubungan.
- Adanya Peluang
Sekalipun pada mulanya seseorang tidak mempunyai keinginan untuk melakukannya, namun jika suatu kesempatan tiba-tiba muncul, ada kemungkinan akan terjadi perselingkuhan. Selain itu, Buunk mengatakan bahwa orang yang awalnya berniat berselingkuh, kemungkinan besar akan melakukannya jika diberi kesempatan. Sebuah studi yang dilakukan oleh Selterman, Garcia, dan Tsapelas menunjukkan bahwa 70% peserta selingkuh karena alasan oportunistik, atau faktor situasional.
- Kebosanan
Bukan karena tidak bahagia atau ada konflik dalam hubungan. Namun, perselingkuhan merupakan respon terhadap kebosanan pada pasangan.
Perselingkuhan dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental
Perselingkuhan sering kali meninggalkan luka emosional yang mendalam pada korban dan orang orang yang terlibat. Trauma akibat pengkhianatan dapat memengaruhi kepercayaan dalam hubungan serta kesehatan mental dan fisik. Trauma emosional adalah reaksi psikologis yang terjadi ketika seseorang merasa terkhianati atau dikhianati oleh pasangan yang dipercaya. Dalam kasus perselingkuhan, jenis trauma ini ditandai dengan hilangnya kepercayaan, harga diri, dan rasa aman dalam hubungan.
Menurut Nagurney dan Thornton (2011) pihak yang diselingkuhi oleh pasangannya kemungkinan besar akan mengalami trauma dalam hidupnya karena pernah mengalami pengkhianatan. Pasangan merasa dikhianati dan terluka sering mengalami emosi seperti marah, kecewa, ragu, sedih bahkan mungkin memiliki banyak gejala seperti depresi dan gejala pasca trauma (Azhar et al., 2018; Robustelli et al., 2015).
Kesedihan akibat perselingkuhan dapat dijelaskan dengan model “proses berduka” dari Kubler-Ross yang terdiri dari 5 tahapan (Subotnik & Harris 2005):
1. Tahap Penyangkalan Awal
Tahap ini ditandai dengan perasaan tidak percaya dan penolakan. Ditandai dengan emosi yang isinya tentang informasi perselingkuhan sang suami. Bagi sebagian wanita, mati rasa merupakan reaksi defensif terhadap nyeri berlebihan. Jika tidak berlarut-larut, penolakan ini menjadi mekanisme otomatis untuk menghindari luka emosional yang lebih dalam.
2. Tahap Kemarahan Setelah tahap penolakan
Wanita mulai merasakan perasaan marah yang sangat kuat. Mereka biasanya memarahi suami atas perilakunya, banyak menangis, dan bahkan melakukan kekerasan fisik terhadap suaminya. Kemarahan seringkali ditujukan kepada wanita yang merupakan pacar suaminya. Keinginan seorang wanita untuk membalas dendam terhadap suaminya begitu besar dan keinginan untuk menimbulkan penderitaan yang luar biasa pada suaminya.
3. Tahap Negosiasi
Setelah kemarahan mereda sampai batas tertentu, wanita memasuki tahap negosiasi. Ketika seorang wanita menyadari bahwa pernikahannya sedang dalam krisis, dia berjanji akan melakukan banyak hal positif selama pernikahannya tidak berantakan. Misalnya, cobalah untuk lebih memperhatikan suami, menjadi pasangan yang lebih ekspresif dalam hubungan seksual, cobalah untuk lebih menghargai diri sendiri. Keputusan ini terkadang tidak masuk akal, karena pelaku kesalahan harus berubah dan meminta maaf.
4. Tahap Depresi Kelelahan Fisik
Perubahan suasana hati yang terus-menerus dan upaya untuk memperbaiki kehidupan perkawinan dapat menyebabkan depresi pada wanita. Seorang wanita kehilangan gairah hidup, menjadi sangat sedih, tidak mau mengurus dirinya sendiri, kehilangan nafsu makan. Suasana hati yang tertekan bahkan lebih buruk lagi jika seorang wanita yakin bahwa dialah yang mengakibatkan suaminya berselingkuh darinya.
5. Tahap Penerimaan
Perkembangan positif hanya dapat terjadi ketika seorang istri mencapai tahap penerimaan. Penerimaan dibagi menjadi dua jenis yaitu pertama adalah penerimaan intelektual, atau penerimaan dan pemahaman terhadap apa yang terjadi. Kedua, penerimaan emosional yang artinya dapat mendiskusikan perselingkuhan tanpa bereaksi berlebihan. Proses menuju penerimaan tidak sama untuk semua orang dan membutuhkan waktu yang berbeda.
Dukungan sosial mempunyai dampak besar terhadap pemulihan trauma. Orang yang merasa didukung akan lebih mampu untuk mengatasi stres dan mendapatkan kembali rasa percaya diri. Mencari komunitas atau kelompok terapi yang memahami situasi juga dapat memberikan kenyamanan emosional.
Strategi Pemulihan Trauma
1. Membangun kebiasaan baru yang sehat
Fokus pada kegiatan yang meningkatkan kesehatan, seperti: Contoh: olahraga, meditasi, membaca.
2. Mintalah dukungan.
Bicaralah dengan teman dan keluarga tepercaya yang dapat memberi Anda sudut pandang positif.
3. Menemukan Kembali Makna Hidup
Trauma seringkali membuat orang kehilangan arah. Meluangkan waktu untuk mengeksplorasi minat dan tujuan hidup baru dapat menjadi langkah penting dalam proses pemulihan.
KESIMPULAN
Perselingkuhan adalah masalah serius yang tidak hanya merusak hubungan romantis, tapi juga berdamapak besar pada kesehatan mental individu yang terlibat. Dengan meningkatnya kasus perselingkuhan di Indonesia, penting untuk memahami berbagai faktor penyebab fenomena ini, termasuk ketidakpuasan emosional dan kurangnya komunikasi yang buruk antar pasangan. Dampak psikologis yang dialami oleh korban perselingkuhan, seperti trauma emosional, depresi, dan gangguan kecemasan, dapat memengaruhi kemampuannya dalam menjalin hubungan yang sehat di masa depan. Proses pemulihan trauma perselingkuhan merupakan proses yang kompleks dan memerlukan waktu, serta dukungan yang tepat dari lingkungan sosial. Tahapan pemulihan yang meliputi penolakan, kemarahan, bargaining, depresi, dan penerimaan menandakan bahwa individu harus melalui proses emosional yang mendalam untuk mencapai kesembuhan. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya komunikasi yang baik dalam hubungan, dan memberikan dukungan sosial kepada mereka yang mengalami dampak negatif dari perselingkuhan. Dengan pendekatan yang tepat, diharapkan individu akan pulih dan membangun kembali kepercayaan diri dan kemampuan guna menjalin hubungan yang lebih sehat di masa depan.
DAFTAR PUSTAKA
Amalia Shaleha, R. R. (2021). Ketidaksetiaan: Eksplorasi Ilmiah tentang Perselingkuhan. Buletin Psikologi, 29(2), 218–230. DOI: 10.22146/buletinpsikologi.55278. ISSN 0854-7106 (print), ISSN 2528-5858 (Online).
Syamsuri, M. V., & Yitnamurti, S. (2021). Infidelity from Psychiatric Perception.Buletin Psikologi, 29(2), 218–230. DOI: 10.22146/buletinpsikologi.55278. ISSN 0854-7106 (print), ISSN 2528-5858 (Online).
Psikologibali. (n.d.). Mengatasi Trauma Pasca Perselingkuhan: Panduan untuk Pemulihan Diri dan Hubungan. Diakses 25 Desember 2024, dari https://psikologibali.com/mengatasi-trauma-pasca-perselingkuhan-panduan-untuk-pemulihan-diri-dan-hubungan/.
Kampus Psikologi. (n.d.). Selingkuh Menurut Psikologi. Diakses 25 Desember 2024, dari https://kampuspsikologi.com/selingkuh-menurut-psikologi/.
Jurnal Dharmawangsa. (n.d.). Infidelity from Psychiatric Perception. Diakses 25 Desember 2024, dari https://jurnal.dharmawangsa.ac.id/index.php/junetmedia/article/view/1830/1490.
Komentar
Posting Komentar